Ada masa ketika uang sepuluh ribu terasa seperti angka yang sopan. Tidak besar, tapi juga tidak memalukan. Bisa buat beli bensin eceran, parkir dua jam, atau—yang paling membahagiakan—martabak Abang Caq yang rasanya tidak kalah dari menu kafe ber-AC dengan playlist galau.
Di zaman ketika harga kopi bisa menyentuh angka yang bikin dompet minta tolong, martabak Abang Caq justru berdiri tenang di angka 10 ribuan. Tanpa drama “harga menyesuaikan kondisi pasar”. Tanpa embel-embel “premium series”. Hanya martabak sederhana, tapi rasa dan porsinya tidak pernah merasa sederhana.
Kalau Anda warga Bengkulu, terutama sekitar Ratu Agung, mungkin sudah tidak asing. Gerobaknya mangkal di Jl. Batang Hari, depan Taman Veteran, Nusa Indah, Kec. Ratu Agung, Kota Bengkulu, Bengkulu 38223. Ia mulai buka sekitar jam 5 sore, waktu yang tepat ketika langit mulai redup dan perut mulai berisik.
Saya pertama kali beli martabak Abang Caq bukan karena lapar yang heroik, tapi karena saldo yang realistis. Malam itu, pilihan saya cuma dua: makan mie instan di rumah atau cari sesuatu yang sedikit lebih bermartabat. Dan di situlah gerobak Abang Caq seperti oase bagi kaum tanggung tanggal tua.
Gerobaknya tidak mewah. Lampunya seadanya. Spanduknya mungkin sudah melihat lebih banyak musim hujan daripada saya melihat saldo dua digit. Tapi justru di situlah letak kejujurannya. Tidak ada pencitraan. Tidak ada gimmick “viral dulu, enak belakangan”.
Yang membuat martabak Abang Caq istimewa bukan cuma karena harganya 10 ribuan. Tapi karena rasanya tidak seperti kompromi. Kulitnya lembut, isinya terasa, topping-nya tidak pelit. Ia tidak sedang berusaha jadi mahal. Ia hanya berusaha jadi layak.
Di tengah budaya flexing yang makin merajalela—dari kopi 40 ribu sampai dessert yang namanya lebih panjang dari masa pendekatan—martabak Abang Caq seperti pengingat bahwa kenikmatan tidak selalu butuh validasi Instagram Story. Kadang cukup duduk di bangku plastik, di depan Taman Veteran, sambil meniup-niup martabak yang masih panas.
Saya pernah melihat seorang bapak datang bersama anaknya. Mereka membeli dua porsi. Si anak tersenyum lebar seolah baru saja diajak ke restoran hotel. Dan di situ saya sadar, rasa mewah itu bukan soal harga, tapi soal pengalaman yang dibagi.
Sepuluh ribu mungkin bagi sebagian orang adalah uang receh. Tapi bagi banyak orang lain, itu adalah batas antara bisa makan enak atau sekadar bertahan. Martabak Abang Caq tidak menghakimi. Ia tidak peduli apakah pembelinya pakai sandal jepit atau sepatu mengilap.
Yang menarik, martabak 10 ribuan ini justru terasa lebih jujur daripada banyak produk mahal yang sibuk menjual citra. Di sini, yang dijual cuma rasa dan niat baik. Tidak ada jargon “artisan”, tidak ada klaim “handcrafted dengan cinta”. Tapi entah kenapa, rasanya memang seperti dibuat dengan sungguh-sungguh.
Di tengah ekonomi yang sering bikin kita mikir dua kali sebelum checkout keranjang belanja, menemukan makanan yang rasanya mewah tapi harganya bersahabat itu seperti menemukan teman lama yang masih ingat nama panggilan kita. Hangat dan tidak mengintimidasi.
Dan kalau Anda tipe orang yang malas antre terlalu lama, datanglah lebih awal setelah jam 5 sore. Karena makin malam, biasanya pembelinya makin ramai. Kalau mau tanya-tanya dulu atau pesan dalam jumlah agak banyak, bisa juga langsung hubungi 0857-8822-7115. Sederhana, tanpa aplikasi, tanpa ribet.
Saya tidak bilang martabak Abang Caq adalah solusi krisis ekonomi. Tapi setidaknya, ia adalah solusi krisis lapar yang tidak menambah krisis batin. Kita bisa makan enak tanpa merasa bersalah pada dompet sendiri.
Ada kebahagiaan sederhana ketika menggigit martabak hangat di malam Bengkulu yang sedikit berangin. Apalagi kalau makannya sambil duduk santai dekat Taman Veteran, melihat orang lalu-lalang, sambil merasa—untuk sesaat—hidup ini tidak seberat notifikasi tagihan.
Martabak Abang Caq mungkin hanya gerobak sederhana di pinggir jalan. Tapi bagi banyak orang, ia adalah bukti bahwa uang 10 ribu masih punya harga diri. Dan di zaman serba naik ini, menemukan rasa mewah di harga 10 ribuan itu bukan cuma soal makan—tapi soal waras.